Rabu, 05 Desember 2012

KHOTBAH DI BUKIT


KHOTBAH DI BUKIT ( 1 )
 ( MATIUS 4 : 23-25 ; MATIUS 5 : 1-12 )


 PENDAHULUAN
 Khotbah di Bukit merupakan bagian Alkitab yang terkenal di dunia. Ajaran Yesus yang tercantum di dalamnya sangat menantang para pembacanya sepanjang sejarah kekristenan. Khotbah di bukit sering disebut manifesto kekristenan atau intisari ajaran Yesus. Maka tidak bisa disangkal bahwa kotbah ini memang berperan dan berdampak luas, baik dalam kesalehan kristiani maupun dalam ilmu teologia.
 Penstrukturan bagian ini menurut J. Stott (“Kotbah di Bukit”, Jakarta 1988 Jilid I dan II) adalah sebagai berikut :


 MATIUS

 LUKAS

 Pembukaan
 1. Kebahagiaan Kristiani
 2. Kesaksian Kristiani
 3. Kebenaran Kristiani
 4. Kesalehan Kristiani
 5. Ambisi Kristiani
 6. Pergaulan Kristiani
 7. Penyerahan Kristiani
 Penutupan (reaksi para pendengar)
 4 : 23 – 5 : 1
 5 : 2-12
 5 : 13-16
 5 : 17-48
 6 : 1-18
 6 : 19-34
 7 : 1-20
 7 : 21-27
 7 : 28-29
 6 : 17-19
 6 : 20-26

 6 : 27-36
 (11 : 2-4)
 (12 : 22-31)
 6 : 37-42)
 6 : 47-49

 Pembahasan kita kali ini pada bagian Pembukaan dan Kebahagiaan Kristiani.


 EKSPOSISI
 A. PEMBUKAAN

 1. Betapa rajinnya Kristus sebagai pengkhotbah. Ia berkeliling di seluruh Galilea, Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah (23a). :

 a. berkeliling di seluruh Galilea, mengajar. Sebenarnya Ia bisa saja menyebarkan pemberitahuan agar semua orang datang kepadaNya. Namun untuk menunjukkan kerendahan hati dan anugerahNya, Dia sendirilah yang mendatangi mereka. Menurut Yosephus, ada lebih dari 200 kota di Galilea; dan Kristus telah mengunjungi semua atau sebagian besar kota-kota itu. Ia pergi dari kota ke kota mengajak orang berdosa untuk diperdamaikan dengan Allah.

 b. Yang diajarkan adalah Injil Kerajaan Allah. Kerajaan Sorga yang penuh anugerah dan kemuliaan. Kerajaan yang akan bertahan, yang mengatasi semua kerajaan di dunia. Injil merupakan UUD dari Kerajaan itu, yang mengandung sumpah pengangkatan Sang Raja bahwa Ia telah menyediakan diri untuk mengampuni, melindungi, dan menyelamatkan warga kerajaan itu. Injil juga mengandung sumpah warga untuk setia, bahwa mereka menyediakan diri untuk mematuhi titah-titahNya dan hidup bagi kehormatanNya.

 c. Dimana Ia berkotbah – dalam rumah-rumah ibadat. Bukan hanya di sana, tetapi terutama di sana. Ia berkotbah, sebab disitulah tempat yang amat ramai untuk beribadah, darimana Hikmat diserukan (Amsal 1 : 21. TL) dan diharapkan bahwa disitulah pikiran orang akan dipersiapkan untuk menerima Injil. Di tempat itulah Kitab Suci Perjanjian Lama dibacakan dan penjelasannya bisa menjadi alat yang mudah untuk memperkenalkan Injil Kerajaan Allah.

 2. Betapa besar kuasa Kristus untuk menyembuhkan. Ia berkeliling bukan saja untuk mengajar, tetapi juga untuk menyembuhkan (23b-25). Keduanya dilakukanNya dengan perkataanNya, agar Ia dapat meninggikan namaNya. DisampaikanNya firmanNya dan disembuhkanNya mereka (Mazmur 107 : 20 ). :

 a. Penyakit apa yang disembuhkanNya – semuanya tanpa kecuali. Dia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Ada tiga kata untuk mengisyaratkan hal ini. noson, seperti kebutaan, kelumpuhan, demam tinggi, dan sakit busung air. Setiap penyakit atau kelemahan, malakian, seperti misalnya disentri dan batuk kering. Segala macam sengsara, basanous, seperti misalnya encok, batu ginjal, kejang-kejang, dan penyakit-penyakit menyiksaa lainnya.

 b. Disini disebutkan tiga jenis penyakit secara khusus, yaitu penyakit lumpuh, yang merupakan kelemahan tubuh yang paling hebat,; sakit ayan, atau penyakit otak yang paling parah, dan kerasukan setan, yang merupakan kesengsaraan dan malapetaka terparah dibanding kedua penyakit tadi.

 c. Seorang tabib yang begitu mudah ditemui, yang pasti berhasil, yang menyembuhkan dengan segera, tanpa menimbulkan keraguan atau penantian yang menyakitkan, dan yang menyembuhkan tanpa memungut bayaran, tidak bisa tidak pasti mendapatkan pasien yang berlimpah. Lihatlah disini bagaimana orang datang berbondong-bondong dari mana-mana. Berita tentang Dia tersiar di seluruh Siria¸ bukan hanya diantara kaum Yahudi, namun sampai ke bangsa-bangsa tetangga, yang hanya melalui kabar ini bisa dipersiapkan untuk menerima InjilNya yang sebenarnya baru dikemudian hari akan dibawa kepada mereka.


 B. KEBAHAGIAAN KRISTIANI

 1. (5 : 1-2) merupakan pendahuluan dari khotbah Yesus di Bukit. Dalam ayat-ayat ini kita melihat gambaran umum tentang kotbah ini :

 a. Pengkotbahnya adalah Tuhan Yesus.
 b. Tempatnya di atas sebuah bukit di Galilea.
 c. Para pendengarnya adalah murid-muridNya yang datang kepadaNya, orang banyak itupun turut mendengarnya.
 d. Khotbah ini sangat khidmat, hal ini tampak dalam kata-kata setelah Ia duduk.

 2. Ucapan bahagia (5 : 3-12). Setiap berkat yang diucapkan Kristus di sini mempunyai tujuan ganda :

 a. Untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya benar-benar dapat disebut berbahagia dan seperti apa watak mereka.
 b. Apa saja yang terkandung dalam kebahagiaan yang sejati, yakni dalam janji-janji yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki watak-watak tertentu yang membuat mereka berbahagia itu.

 3. Siapakah sebenarnya yang disebut berbahagia ? :

 Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang berbahagia (3). Ada kemiskinan rohani yang begitu menghalangi orang menerima berkat atau kebahagiaan, sehingga merupakan dosa dan jerat, seperti kekecutan hati dan ketakutan mendasar, serta kesediaan untuk menyerah pada hawa nafsu. Namun kemiskinan jiwa yang disebut disini adalah suatu keadaan yang mulia, dimana kita dikosongkan agar dapat diisi oleh Yesus Kristus. Menjadi miskin dihadapan Allah berarti :
 Merasa puas di tengah kemiskinan, bersedia dikosongkan dari kekayaan duniawi jika hal itu menjadi kehendak Allah bagi kita, dan menilik keadaan kita saat kita sedang dalam kondisi yang kurang. Di dunia ini banyak orang yang miskin tetapi penuh keangkuhan, miskin dan sombong, menggerutu dan mengeluh, serta mempersalahkan nasib mereka. Namun kita harus meneysuaikan diri dengan kemiskinan kita, kita harus tahu apa itu kekurangan (Fil. 4 : 12). Ini berarti merasa tidak trerikat pada semua kekayaan duniawi, tidak mencondongkan hati kita kepadanya. Jika kita kaya di dunia, kita harus miskin dihadapan Allah. Artinya, kita harus bersikap rtendah hati terhadap orang miskin dan ikut merasakan perasaan mereka. Ayub seorang yang miskin di hadapan Allah, ketika ia memuji Allah karena mengambil maupun memberi.
 Berpikir sederhana mengenai diri sendiri, siapa kita, apa yang kita mil;iki dan apa lakukan. Dalam PL orang miskin sering kali menjadi gambaran orang rendah hati dan menyangkal diri, kebaikan dari orang-orang yang hidup nyaman dan sombong. Miskin dihadapan Allah berarti kita melihat diri sendiri seperti kanak-kanak, lemah, bodoh dan tidak berarti (18:4 ; 19:14). Jemaat Laodikia miskin dalam hal-hal rohani, melarat dan malang, namun mereka kaya dalam batin mereka, begitu berlimpah dalam harta sehingga mereka tidak kekurangan apa-apa (Wahyu 3 : 17). Miskin dihadapan Allah berarti memandang hina diri sendiri dengan cara yang kudus, menghargaio orang lain, dan menganggap diri tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Ini berarti mengakui bahwa Allah besar dan kita kecil, bahwa Dia kudus dan kita berdosa.
 Menanggalkan seluruh rasa keyakinan diri terhadap kebenaran dan kekuatan kita sendiri, supaya dengan demikian kita dapat mengandalkan kebaikan Kristus saja untuk membenarkan kita dan mengandalkan Roh serta anugerahNya untuk pengudusan kita. Hati pemungut cukai yang patah dan remuk, penyesalan saat memohon belas kasihan karena merasa diri sebagai orang berdosa, itulah yang disebut miskin dihadapan Allah.

 Kemiskinan dihadapan Allah ini ditempatkan pada urutan pertama diantara semua kebaikan Kristen. Para filsuf tidak memperhitungkan kerendahan hati sebagai salah satu kebajikan moral mereka, tetapi Kristus menempatkannya di urutan pertama. Penyangkalan diri adalah pelajaran pertama yang harus dipelajari di sekolahNya, dan miskin di hadapan Allah dijadikan ucapan berbahagia pertama dalam khotbahNya.

 Mereka berbahagia atau diberkati. Di dunia ini mereka mengalami hal tersebut, Allah memandang mereka dengan penuh belas kasihan. Merekalah yang empunya KerajaanSorga. Kerajaan anugerah terdiri dari orang-orang yang demikian. Orang-orang yang seperti ini , yang mematuhi Allah saat Ia merendahkan diri seperti ini, yang memetuhi Allah saat Ia merendahkan mereka, akan ditinggikan. Jiwa congkak dan sombong akan musnah bersama kemuliaan segala kerajaan di bumi. Namun, jiwa yang rendah hati, leb\mah lembut, dan patuh akan memperoleh kemuliaan Kerajaan Sorga.

 AYAT HAFALAN
 “ Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
 karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga. “
 (Matius 5 : 3)

 KESIMPULAN
 1.Kristus di dalam mewartakan Injil Kerajaan Sorga tidak berdiam diri tunggu bola, tetapi aktif jalan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia merindukan banyak jiwa yang dapat diperdamaikan dengan Allah. Bagaimanakah dengan kita dalam l\melanjutkan misiNya di dunia ini ?
 2.Dalam pelayananNya Yesus Kristus juga melakukan pelayanan kesembuhan. Melalui pelayanan ini orang lebih mudah datang kepada Tuhan dan dilayani. Sekalipun pelayanan kesembuhan itu dilakukanNya, tetapi misi utamaNya mengabarkan Injil tidak dilupakanNya. PelayananNya seiring dengan tindakanNya.
 3.Ucapan-ucapan bahagia yang mengawali khotbah di bukit ini memaparkan watak atau ciri khas Kristiani.

Kesaksian Kristiani



KESAKSIAN KRISTIANI
 (MENJADI GARAM DAN TERANG)
 MATIUS 5 : 13 – 16



PENDAHULUAN

 Dalam bagian kedua ini, jati diri murid-murid diaplikasikan melalui dua metafora yang amat jelas artinya. Murid-murid adalah garam dan terang di dunia. Dua metafora ini menunjukkan peranan seorang murid dalam masyarakat sebagai orang yang berbeda dan berperanan, yaitu orang yang sungguh bersaksi melalui kehidupan dan keteladanannya. Namun syarat bagi berhasilnya kesaksian hidup ini, ialah bahwa watak kristiani yang telah diberitakan Yesus jangan melemah atau memadam di dunia.

EKSPOSISI

 1.Kamu adalah garam dunia. (13a)
 Kata kamu, menunjuk kepada para murid. Pribadi atau kelompok orang yang percaya kepada Kristus dan menjadi pengikut Kristus. Kata-kata ini bertujuan mendorong dan menyokong mereka saat mengalami penderitaan, agar sekalipun diperlakukan hina, mereka harus tetap menjadi berkat bagi dunia, lebih-lebih ketika sedang di tengah-tengah penderitaan. Para nabi yang ada sebelum mereka adalah garam bagi tanah Kanaan, tetapi para rasul adalah garam bagi seluruh bumi, sebab mereka harus pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil. Tampaknya mereka berkecil hati karena jumlah mereka begitu sedikit dan lemah. Apa yang mampu dilakukan di kawasan yang begitu luas seperti seluruh muka bumi ini ? Tidak ada, jika mereka harus bekerja dengan menggunakan kekuatan senjata. Namun, dengan bekerja tanpa suara seperti garam, maka segenggam garam itu akan menyebarkan rasanya kemana-mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa dan tanpa penolakan seperti bekerjanya ragi (13 : 33).
 Pengajaran Injil itu seperti garam, yang menembus, cepat dan sangat kuat (Ibr. 4 : 12), Ia menjangkau hati (Kis. 2 : 37). Ia membersihkan, mengharumkan, dan mengawetkan supaya tidak busuk. Kita membaca mengenai keharuman pengenalan akan Kristus (2 Kor. 2 :14), sebab selain pengenalan akan Kristus, pengetahuan lainnya hanyalah hambar rasanya. Perjanjian yang kekal disebut perjanjian garam (Bil. 18 : 19), dan Injil itu sendiri adalah Injil yang kekal. Garam merupakan syarat dalam semua korban persembahan (Im. 2 : 13), juga dalam Bait Suci Yehezkiel (Yeh. 43 : 24).
 Orang-orang Kristen, terutama para pelayan Tuhan, adalah garam dunia. Jika mereka berlaku seperti seharusnya, mereka seperti garam yang baik, putih bersih, halus, dan dihancurkan menjadi butir-butir, namun sangat berguna dan diperlukan. :
 Seperti apa mereka seharusnya dalam diri mereka – diasinkan dengan Injil, dengan garam anugerah. Segala pikiran dan perasaan, perkataan serta perbuatan, semuanya harus diasinkan dengan anugerah (Kol. 4 : 6).
 Seperti apa mereka seharusnya bagi orang lain. Mereka bukan saja harus menjadi baik, tetapi juga berbuat baik. Mereka harus bisa membuat diri mereka diterima dalam pikiran orang-orang, bukan untuk melayani minat duniawi diri sendiri, tetapi agar orang-orang lain itu bisa diubahkan sesuai dengan rasa dan selera Injil.
 Betapa mereka menjadi berkat luar biasa bagi dunia. Umat manusia yang tinggal dalam kebodohan dan kejahatan, bagaikan sebuah tumpukan besar sampah yang menjijikkan dan siap membusuk. Namun, Kristus mengutus murid-muridNya, agar melalui kehidupan dan pengajaran mereka, mereka menggarami tumpukan itu dengan pengetahuan dan anugerah, supaya bisa diubahkan menjadi layak dihadapan Allah, para malaikat, dan semua yang menyukai hal-hal sorgawi.
 Bagaimana mereka akan digunakan. Mereka tidak boleh ada dalam suatu tumpukan, tidak boleh terus menerus bersama-sama di Yerusalem, melainkan mereka harus menyebar seperti garam yang ditabur di atas daging, sebutir di sini dan sebutir di sana, supaya dimanapun mereka berada, mereka dapat meneruskan keharuman Injil itu.

 2.Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan ? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (13b).Bila saudara, yang seharusnya mengasinkan orang lain, telah menjadi hambar, kosong dalam kehidupan rohani, tidak ada sukacita dan semangat ; bila seorang Kristen, lebih-lebih seorang hamba Tuhan seperti ini, maka keadaannya ini teramat menyedihkan, sebab :
 Ia tidak dapat diperbaiki lagi : Dengan apakah ia diasinkan ? Garam adalah obat bagi makanan yang tawar, tetapi tidak ada obat bagi garam yang tawar. Kekristenan akan memberikan keharuman bagi manusia, tetapi bila kehidupan Kekristenan seseorang tetap datar dan bodoh, tidak penuh dengan anugerah serta tawar, maka tidak ada pengajaran atau sarana apapun lagi yang dapat diterapkan untuk membuatnya harum kembali. Jika kekristenan tidak dapat melakukannya, tidak ada yang dapat.
 Ia tidak berfaedah lagi, tidak ada gunanya lagi. Apalagi yang dapat diperbuat dengannya selain menimbulkan lebih banyak kesusahan daripada kebaikan ? Orang yang jahat adalah makhluk yang paling buruk. Orang Kristen yang jahat adalah manusia paling buruk, sedangkan hamba Tuhan yang jahat adalah orang Kristen yang paling buruk.
 Ia pasti akan binasa dan ditolak. Ia akan dibuang – diusir dari jemaat dan persekutuan orang beriman, karena menjadi noda dan beban bagi mereka. Ia akan diinjak orang, supaya dengan demikian biarlah Allah tetap dipermuliakan.

 3.Kamu adalah terang dunia (14). Hal ini juga memperlihatkan bahwa murid-murid itu berguna, seperti pada perintah sebelumnya, hanya saja yang ini lebih mulia. Semua orang Kristen adalah terang di dalam Tuhan (Ef. 5 : 8), dan harus bercahaya seperti bintang-bintang (Filp. 2 : 15), namun melayani dengan cara yang istimewa. Kristus menyebut dirinya terang dunia (Yoh. 8 : 12), sedangkan murid-muridNya adalah teman teman sekerja dan menerima sebagian kehormatanNya. Dunia diam dalam kegelapan, dan Kristus membangunkan murid-muridNya untuk bersinar di dalamnya, dan supaya dapat melakukannya, mereka meminjam dan mendapatkan terang itu dariNya. Persamaan itu dijelaskan melalui 2 hal :
 a. Sebagai terang dunia, mereka tampak jelas dan mencolok mata, dan banyak mata tertuju kepda mereka. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi (14). Murid-murid Kristus, terutama meraka yang berani dan bersemangat dalam pelayanan, akan menjadi luar biasa dan dipandang sebagai mercusuar. Sebagian mengagumi, memuji, bersukacita bersama mereka, dan berusaha meneladani mereka ; yang lain lagi iri hati, membenci, mencela, dan berusaha menjatuhkan mereka. Oleh sebab itu, mereka harus memperhatikan dengan saksama bagaimana mereka hidup, karena banyaklah orang yang sedang mengamati mereka.
 b. Sebagai terang dunia, mereka dimaksudkan untuk menerangi dan membawa terang kepada orang lain (15). Oleh sebab itu :
 Kristus telah menyalakan pelita-pelita itu, yang tidak akan ditaruh dibawah gantang (tempayan), tidak selalu dibatasi di kota-kota Galilea atau hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, tetapi mereka akan diutus ke seluruh muka bumi.
 Mereka harus bercahaya seperti terang :
 Melalui pemberitaan firman (khotbah) yang baik. Pengetahuan yang mereka miliki harus mereka sampaikan demi kebaikan orang lain. Bukan untuk diletakkan di bawah gantang, melainkan untuk disebarkan.
 Melalui cara hidup yang baik. Mereka harus menjadi pelita yang menyala dan yang bercahaya (Yoh. 5 : 35). Bagaimana terang kita harus bercahaya ? Dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang dapat dilihat dan diakui orang. Untuk tujuan apa terang kita harus bercahaya ? Supaya orang-orang yang melihat perbuatanmu yang baik dapat dibawa, bukan untuk memuliakan kamu, tetapi untuk memuliakan Bapamu yang di Sorga. Perhatikan, kemuliaan Allah adalah hal terbesar yang harus menjadi tujuan kita dalam semua hal yang kita lakukan dalam ibadah kita (1 Petr. 4 : 11). Seluruh arah tindakan kita harus berpusat pada hal ini.

KESIMPULAN

 1.Kehidupan seorang Kristen, diharapkan segala pikiran, perkataan dan perbuatannya mampu memberi rasa sebagaimana rasanya garam yang menyedapkan semua masakan. Demikianlah hendaknya kekristenan kita seharusnya memberi rasa anugerah Allah pada lingkungan dimanapun kita berada. Anugerah yang kita terima tidak boleh dinikmati sendiri, tetapi harus bisa dinikmati oleh orang lain yang ada di sekeliling kita. Suatu kehidupan yang berguna bagi orang lain dan bagi kemuliaan nama Tuhan.
 2.Kemuliaan seorang Kristen bukan terletak pada berapa lama ia menjadi seorang Kristen, melainkan terletak pada berapa lama dan berapa banyak ia mampu memancarkan terang Kristus pada lingkungan dimanapun Allah menempatkan dia. Karena terang kita bercahaya dan menjadi pusat perhatian banyak orang yang ada di sekeliling kita, maka berhati-hatilah dalam menjaga kekudusan hidup agar kemuliaan terangmu tetap bercahaya, dapat dinikmati orang banyak dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Baptisan dan Pengurapan Roh Kudus



A.BAPTISAN ROH KUDUS (Matius 3 : 11)

I.PENGERTIAN ISTILAH / TERMINOLOGY
 Berdasarkan teks dalam bahasa Yunani : “Baptistesethe en pneumati agio” (Kis Para Rasul 11 : 16 ; 1 : 5) atau “Baptisei en penumati agio” (Matius 3 : 11, Markus 1 : 8 ; Lukas 3 : 16 ; Yoh 1 : 33), maka ada tiga istilah yang harus didefinisikan pengertiannya, yaitu : Baptistesesthe, preposisi en dan pneumati agio. :

1.Istilah Baptistesesthe
 Baptistesesthe adalah kata kerja future indikatif-pasif orang kedua jamak, yang diterjemahkan : “kamu akan dibaptis”, bersifat profetis, yaitu janji baptisan Roh Kudus yang akan dialami/terjadi pada masa yang akan datang. Baptisan merupakan tanda sakramental dari Perjanjian Baru, yaitu tanda dimana Allah memeteraikan janjiNya kepada orang pilihanNya, yaitu mereka yang termasuk dalam ikatan perjanjian anugerah.
 Baptisan (Baptizo) berarti proses pencelupan atau penyelaman. Istilah ini berasal dari kata “bapto” yang berarti mandi atau masuk ke dalam air. Dalam konteks Yahudi, kata ini mempunyai arti yang sakral, yaitu upacara pembersihan atau pembasuhan diri (Markus 7 : 4 ; Ibr 9 : 10). Yohanes Pembaptis menghubungkan baptisan air ini dengan penyucian atau pengampunan dosa (Matius 3 : 2, 6 : Markus 1 : 4), dimana baptisan merupakan tanda pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita (Kis. Rasul 2: 28 ; Ibr. 10 : 22 ; Titus 3 : 5). Makna baptisan air juga berkenaan dengan kesatuan dengan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan ini tidak dapat diulang.
 Baptisan juga berkenaan dengan Roh Kudus, sekalipun baptisan air berbeda dengan baptisan Roh Kudus, namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Setelah Yohanes Pembaptis membicarakan tentang baptisan air sebagai baptisan untuk pengampunan dosa, dia langsung menunjuk ke depan kepada Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (Mat 3 : 11 ; Markus 1 : 8 ; Lukas 3 : 16 ; Yoh 1 : 30-34). Beberapa penafsir mengartikan bahwa teks baptisan api digenapi dalam peristiwa pentakosta (Kis 2 :3), namun konteks bagian Firman Tuhan yang berbicara mengenai baptisan api ini sebenarnya ialah mengenai penghakiman pada kedatangan Tuhan Yesus kedua kali dan pendirian Kerajaan Allah (Matius 3 : 12). Sedangkan baptisan Roh Kudus adalah berkenaan dengan pencurahan atau pemberian Roh Kudus pada manusia pilihanNya (Kis 2 ; 17 : 33) sebagai penggenapan janji Allah (Yes 32 : 15 ; 44 : 3 ; Yoel 3 : 1) dan janji Tuhan Yesus (Yoh 14 : 16-17 ‘ 16 : 7-11). Kristus membaptis dengan Roh Kudus adalah membawa manusia ke dalam berkat perjanjian yang baru. Ini menjadi nyata pada hari pentakosta. Pemberian Roh Kudus ini terjadi satu kali untuk selamanya, dan tidak akan terulang lagi.
 Jadi sekali lagi, baptisan air dan Roh adalah berbeda, tapi tidak dapat berdiri sendiri. Keduanya menandai bahwa manusia masuk ke dalam berkat perjanjian yang baru, tidak dapat diulang. Perbedaannya, baptisan air diamanatkan oleh Kristus, sedangkan baptisan Roh tidak diperintahkan. Baptisan air adalah sakramen yang nampak, sedangkan baptisan Roh adalah tidak disakramenkan.

2.Istilah Preposisi Ev (en).
 Preposisi ev (en) pada umumnya berarti “dalam”. Namun dalam Alkitab (Yunani) ada empat pemakaian preposisi en, yaitu berkenaan dengan tempat, waktu, alat, dan perasaan. En dapat diterjemahkan : “dalam, pada, diantara, sebelum, oleh, dengan, selama”. Pada Matius 12 : 28 ; 21 : 23, 24 ; Kisah 4 : 12 dan Roma 5 : 9 ; 12 : 21) en hanya berarti dengan. Dalam konteks baptisan Roh Kudus “en” bukan dalam arti “dalam dan oleh” melainkan dalam arti “dengan” dimana arti ini akan menempatkan Kristus sebagai subyek dan Roh Kudus sebagai alat/instrumen.
 Jadi preposisi ev (en) menerangkan bahwa Kristus sebagai pembaptis dan Roh Kudus adalah instrument atau alat pembaptisan.

3.Istilah Pneuma
 Pneuma berasal dari kata pneo yang berarti angin atau nafas (Mat 7 : 25, 27). Kata ini menunjuk pada kuasa atau kekuatan yang tidak kelihatan, yaitu roh yang berkuasa. Pneuma dipakai dalam tiga pengertian, yaitu keadaan batin, sifat manusia dan Roh Allah. Dalam konteks ini, maka pneuma adalah Roh Kudus atau Roh Allah. Roh Kudus adalah pribadi, karena Ia memiliki pikiran (1 Kor 2 : 10-11), perasaan (Kisah 5 : 3-4) dan kehendak. Roh Kudus adalah Allah, karena Ia juga melakukan pekerjaan Allah, yaitu bekerja pada waktu penciptaan (Kej 1 : 1-2), Ia menghibur, membimbing dan mengajar orang (Yoh 16). Roh Kudus adalah Allah, pribadi ke tiga dari Allah Tri Tunggal.
 Dari terminology 3 istilah di atas, maka Baptisan Roh Kudus adalah pencurahan atau pemberian Roh Kudus oleh Kristus kepada orang pilihanNya. Pemberian Roh Kudus ini adalah karya penyucian yang dilakukan oleh Kristus melalui Roh Kudus, bukan untuk menyelamatkan, melainkan dalam rangka keselamatan. Baptisan Roh Kudus berkenaan dengan pengalaman pertama kali percaya atau terjadi secara simultan dengan kelahiran baru dan pertobatan serta tidak mungkin diulang lagi. Penerimaan Roh Kudus yang terjadi secara bersamaan dengan kelahiran baru dan pertobatan, dalam pengertian bahwa Roh Kuduslah yang melahirbarukan manusia berdosa yang pada hakekatnya sudah mati secara rohani, Roh itulah yang menimbulkan iman yang dikaruniakan Allah dalam diri seseorang, Roh itulah yang memampukan seseorang untuk bertobat dan percaya. Penerimaan kuasa Roh Kudus adalah terjadi secara bersamaan dengan kelahiran baru. Karena baptisan Roh Kudus berbicara mengenai moment penyelamatan oleh iman, maka setiap orang percaya dibaptis hanya satu kali saja, yaitu pada saat pertobatannya dan tidak pernah diulang lagi.

II.ASPEK-ASPEK BAPTISAN ROH KUDUS

 Konsep baptisan Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul haruslah dipahami berdasarkan 3 aspek atau tiga wilayah waktu, yaitu :

 1.Aspek Nubuatan
 Istilah “baptisan dalam Roh Kudus” tidak ada dalam Perjanjian Baru, yang ada ialah istilah “dibaptis dengan Roh Kudus”. Baptisan Roh Kudus dalam Kisah para Rasul dimulai dengan aspek nubuatan/janji (Kisa 1 : 4-5) sebagai pengulangan nubuatan para nabi Perjanjian Lama (Yes 32 : 15 ; 44:3 ; Yeh 36 : 26 ; 39 : 29 ; Yoel 3 : 1 ; Zakh 12 : 10), yang diulangi oleh Yoh, Pembaptis (Mat 3 : 11 ; Markus 1 : 8 ; Lukas 3 : 16 ; Yoh 1 : 33), dan diulangi juga oleh Tuhan Yesus (Yohanes 14 dan 16). Janji Pencurahan Roh Kudus juga merupakan janji kerajaan Allah yang rohani dan lebih luas sifatnya, serta bertahap ekspansinya (Kis Para Rasul 1 : 8). Janji ilahi ini tidak pernah dalam pengertian diperoleh sebagai suatu hasil, janji itu selalu dimengerti sebagai suatu hadiah.

 2.Aspek Sejarah
 Kisah Para Rasul 2 : 1-13 merupakan peristiwa pencurahan Roh Kudus atau Pentakosta sebagai penggenapan janji para Nabi Perjanjian Lama, Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus. Peristiwa ini terjadi satu kali untuk selamanya dan tidak akan diulangi lagi. Peristiwa ini menggambarkan sesuatu yang terjadi kepada satu kelompok orang pada waktu pertobatan mereka, bukan setelah pertobatan. Dalam Kisah Para Rasul 11 : 15-17 merupakan suatu ulasan dari Petrus yang mengemukakan bahwa penerimaan Roh Kudus oleh Kornelius dan keluarganya adalah sama dengan peristiwa yang mereka alami, yaitu pada peristiwa pentakosta. Baptisan Roh Kudus yang dialami oleh Kornelius dan keluarganya adalah awal pemasukan mereka ke dalam Kristus atau terjadi pada saat mereka mulai percaya untuk pertama kalinya.

 3.Aspek Pengajaran
 Baptisan Roh Kudus tidak cukup kalau dipahami hanya berdasarkan aspek nubuatan dan sejarah, melainkan juga dengan aspek pengajaran Para Rasul. Karena akan ada bahaya kejatuhan, apabila membangun kebenaran bukan berdasarkan pengajaran melainkan pengalaman. 1 Kor 12 : 13 merupakan ayat kunci pengajaran para rasul tentang baptisan Roh Kudus. Bahwa baptisan Roh Kudus untuk semua orang tanpa dibatasi oleh latar belakang apapun. Melalui baptisan Roh Kudus, semuanya menjadi satu dalam tubuh Kristus. Jadi 1 Kor 12 : 13 bukan menunjuk kepada setelah pertobatan (post conversion) atau second blessing, melainkan kesatuan semua orang percaya dalam tubuh Kristus.

 III.PENGALAMAN BAPTISAN ROH KUDUS

 1.Pengalaman di Samaria (Kis. Para Rasul 8 : 5-17)
 Banyak orang percaya dan dibaptis di Samaria melalui pelayanan penginjil Filipus. Para Rasul yang di Yerusalem mendengar berita ini dan mengutus Petrus dan Yohanes. Kedua Rasul ini berdoa dan menumpangkan tangan ke atas orang Samaria yang telah percaya dan dibaptis (ay.12), namun belum menerima Roh Kudus (15-16), dan setelah didoakan, mereka menerima Roh Kudus (17). Jadi seolah-olah Roh Kudus diberikan setelah bertobat atau percaya dan dibaptis, melalui penumpangan tangan. Kejadian ini dijadikan doktrin, bahwa setelah orang percaya, ia harus menerima Roh Kudus sebagai berkat kedua dari keselamatan (second blessing) dan penerimaan Roh Kudus harus dengan penumpangan tangan. Penafsiran ini adalah sangat keliru. Karena sebenarnya, orang-orang di Samaria belum sungguh-sungguh percaya. Ada beberapa bukti dari teks itu sendiri berbicara bahwa orang-orang Samaria sebelum menerima Roh Kudus adalah belum percaya, yaitu :

 1.1.Simon tukang sihir percaya dan dibaptis (13), namun ia kemudian dituding oleh Petrus karena hatinya tidak lurus atau motivasinya tidak benar, yaitu dengan menawarkan uang untuk mendapatkan karunia Roh Kudus (18-24)

 1.2.Mereka baru dalam taraf mendengar firman Tuhan (14) dan kemungkinan mereka percaya pada Filipus oleh karena hanya rasa takjub melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dibuat Filipus (13) adalah lebih besar dari apa yang dibuat oleh Simon tukang sihir, karena sebelumnya mereka takjub dan mengikuti Simon (9-11)
 Sedangkan adanya penumpangan tangan, bukanlah suatu ukuran normative penerimaan Roh Kudus pada masa kini. Dan baptisan Roh Kudus di Samaria , tidak terdapat fenomena bahasa Roh (bahasa lidah).

 2.Pengalaman di Efesus (Kis. Para Rasul 19 : 1-7)
 Kondisi orang Kristen di Efesus agaknya mereka bukan Kristen sama sekali/menganggap diri mereka Kristen, karena mereka hanya menerima baptisan Yohanes. Karena itu Paulus berkata, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya (Yoh Pembaptis) yaitu Yesus Kristus. Seruan ini membuktikan mereka hanya percaya kepada Yohanes Pembaptis dan tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Dan saat turunnya Roh Kudus ke atas mereka atau saat mereka dibaptis dengan Roh Kudus, barulah mereka sungguh-sungguh percaya. Dengan demikian bagian ini, bukanlah ayat yang tepat untuk mendukung konsep “second blessing”.

IV.MAKNA DAN AKIBAT BAPTISAN ROH KUDUS

 A. Bukan kelahiran baru (Regeneration) dan Bukan Pengurapan (anointing)
 Makna dan akibat dari baptisan Roh Kudus menurut Alkitab adalah bukan kelahiran baru, dan kelahiran baru bukan baptisan Roh Kudus, karena kelahiran baru terjadi secara simultan dengan baptisan Roh Kudus. Kelahiran baru yaitu penerimaan orang percaya terhadap Kristus dalam hati dan diselamatkan, sedangkan baptisan Roh Kudus yaitu penempatan orang percaya dalam Kristus.
 B. Baptisan ke dalam Tubuh Kristus
 Baptisan Roh Kudus memasukkan atau menempatkan kita menjadi anggota dari tubuh Kristus yang anggotanya berbeda-beda dan yang kepalanya adalah Kristus sendiri.
 C. Baptisan Roh Kudus diantara semua orang Kristen sedunia pada masa
 Kini.
 Hal ini terbukti dalam 2 kenyataan :
 c.1. Dalam 1 Kor 12 : 13 berdasarkan konteks, Paulus tidak berkata bahwa orang Korintus dibaptis hanya unsur rohani dan Paulus tidak mendesak mereka untuk dibaptis supaya menjadi rohani. Paulus menyatakan bahwa kita semua yang telah dibaptis, mengartikan istilah “kita semua” yaitu semua orang percaya tanpa mengenal latar belakang rasial, budaya, tempat, status.
 c.2. Dalam Efesus 4 : 5 “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan”. Satu baptisan dengan jelas milik kelompok yang sama yaitu semua orang Kristen yang memiliki juga “satu Tuhan dan satu iman”.
 D. Baptisan ke dalam Kristus

 1. Posisi yang baru dalam Kristus.
 Pada intinya makna atau akibat baptisan Roh Kudus yang memasukkan orang percaya ke dalam tubuh Kristus, adalah tidak dapat dipisahkan dengan makna atau akibat baptisan itu yang juga menempatkan / memasukkan orang percaya dalam Kristus. Hal ini terungkap dalam pernyataan Yesus di dalam Yoh 14 : 20.

 2. Identifikasi dengan Kristus.
 Akibat baptisan Roh Kudus adalah orang percaya diidentifikasikan dengan Kristus dalam kematianNya, dalam penguburanNya, dan dalam kebangkitanNya, serta dalam kemuliaanNya (Roma 6 : 3-10).

 E. Akibat yang permanent dari Baptisan Roh Kudus (tak akan hilang)
 1. Satu penyatuan/perpaduan yang baru
 2. Satu posisi yang baru
 3. Satu persatuan/asosiasi yang baru.

 V.KESIMPULAN
 Baptisan Roh Kudus adalah berkenaan dengan pencurahan atau pemberian Roh Kudus oleh Allah kepada orang pilihanNya sebagai pengalaman dahsyat, dimana orang tersebut dilahirbarukan dan mulai memiliki iman yang utuh sejak saat itu.
 Baptisan Roh Kudus atau pemberian Roh Kudus berbeda dengan kelahiran baru, namun keduanya terjadi secara bersamaan. Karena itu, penerimaan Roh Kudus dan kelahiran baru yang terjadi secara simultan adalah dialami oleh setiap orang percaya hanya satu kali untuk selamanya dan tidak dapat diulang.
 Penerimaan Roh Kudus bukanlah langkah kedua atau berkat kedua setelah pertobatan. Penerimaan Roh Kudus adalah inisiatif dan pekerjaan Allah yang berdaulat atas orang pilihanNya. Jadi tidak bisa diprogram dan tidak bisa dipaksakan, tidak boleh menunggu seperti para rasul dan tidak boleh berdoa untuk meminta baptisan Roh Kudus.
 Dalam baptisan Roh Kudus, Kristus adalah yang bertindak sebagai Pembaptis, sedangkan Roh Kudus sebagai alat atau elemen baptisan. Dalam baptisan Roh Kudus tidak ada kemutlakan mengenai penumpangan tangan dan bahasa lidah, karena Alkitab sendiri menjelaskan bahwa tidak semua peristiwa baptisan Roh Kudus dalam Alkitab disertai dengan penumpangan tangan dan bahasa lidah. Karena itu, keduanya bukanlah satu-satunya ukuran yang normative bagi gereja masa kini.
 Yang terpenting dalam baptisan Roh Kudus adalah makna dan akibatnya yang dialami oleh setiap orang percaya yaitu semua orang percaya tanpa melihat latar belakang, ditarik masuk dalam Kerajaan Allah menjadi anggota tubuh Kristus dan masuk ke dalam kesatuan dengan Kristus, kesatuan yang unik dan vital, tidak terpisah dan bercampur. Sehingga setiap orang percaya memiliki kesatuan yang baru dalam Kristus, posisi yang baru dalam Kristus dan persatuan/asosiasi yang baru dalam Kristus.

 B.KEPENUHAN ROH KUDUS
 I.PENGERTIAN ISTILAH / TERMINOLOGY
 Istilah kepenuhan memang tidak kita jumpai dalam Alkitab, yang ada ialah istilah dipenuhi oleh Roh Kudus. Beberapa istilah Yunani yang berkenaan dengan arti mengisi atau memenuhi :
 1.Kata “kortazo” yang selalu dipakai dengan referensi kepada kelaparan (Mat 5 : 6 ; 14 : 20 ; Lukas 16 : 21 ; Yoh. 6 : 26 ; Yak 2 : 16).
 2.Kata “pletho” yang menggambarkan kepenuhan apa saja dengan sesuatu yang lain, seperti dipenuhi dengan kemarahan (Luk. 4 : 28), dipenuhi dengan sejumlah ikan (Luk 5 : 7). Kata ini juga digunakan untuk menerangkan kepenuhan yang faktual oleh Roh Kudus dalam Lukas 1 : 15,41 ; Kisah 2 : 4 ; 4 : 8, 31 ; 9 : 17 ; 13 : 9.
 3.Ada kata yang sejenis dengan kata pletho ini, yaitu kata kerja pleroo yang berarti : menyelesaikan, melengkapkan, memenuhi (Kisah 12 : 25 ; 14 : 26 ; Kol. 4 : 17 ; Wahyu 3 : 2.) Kata ini juga dipakai dalam Efesus 5 : 18 “alla plerousthe en pneumatic” yang berarti : “ Hendaklah kamu dipenuhi, dikuasai, diisi dengan Roh Kudus “. Istilah ini adalah kata kiasan yang menggambarkan seolah-olah Roh Kudus adalah zat cair.
 Sebab itu pengertian dipenuhi dengan Roh Kudus berarti dikuasai oleh Roh Kudus. Hal ini identik dengan hidup dipimpin oleh Roh (Gal 5 : 16-26).
 Kepenuhan Roh Kudus dalam konsep Perjanjian Lama hanya terbatas pada orang-orang tertentu dan hanya dalam waktu tertentu. Istilah yang sering dipakai ialah Roh Allah itu berkenaan dengan pemberian kuasa supernatural kepada seseorang untuk mengubah hati, menguatkan, memampukan dia dalam pelaksanaan tugas-tugas ilahi. Seperti dalam kitab Hakim-hakim, Roh Tuhan turun ke atas Othniel, Gideon, Jefta dan Samson (Hakim 3 : 10 ; 6 : 34 ; 11 : 29 ; 13 : 25), Saul (1 Sam 10 : 6, 9-10), Mesias (Yes 11 :2 ; 42 : 1-4).
 Kepenuhan Roh Kudus dalam konsep Perjanjian Baru adalah dialami oleh semua orang percaya setelah peristiwa pentakosta, seperti para Rasul (Kisah 2 :4), Jemaat Kristen mula-mula (Kisah 4 : 31 ; 6 : 3,5).
 Peristiwa dipenuhi dengan Roh Kudus tidak sama dengan pengalaman baptisan Roh Kudus. Kepenuhan Roh Kudus sudah menjadi pengalaman semua orang yang telah percaya atau telah dibaptis dengan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus berkenaan dengan pengalaman pertama kali percaya dan diselamatkan, tidak dulang lagi. Sedangkan kepenuhan Roh Kudus adalah pengalaman orang percaya sejak baptisan Roh Kudus atau sejak pertama kali percaya dan terus menerus dialami, bukan dalam rangka keselamatan melainkan setelah diselamatkan.
 Kepenuhan Roh Kudus bukan berdasarkan pengalaman, melainkan berdasarkan pada perintah Tuhan yang mutlak, bahwa “hendaklah kamu dipenuhi dengan Roh Kudus” (Efesus 5 : 18).
 Dalam hal ini, Roh Kudus ingin menguasai seluruh kepribadian orang percaya dalam rangka mengontrol atau mengendalikan dan memotivasi seluruh keberadaan orang percaya (pikiran, perasaan, kehendak, perkataan, perbuatan,dsb) melalui firman Tuhan untuk memuliakan Allah. Hal ini identik dengan tulisan Paulus dalam surat Galatia 5 : 16,25 yaitu “ Hidup dan dipimpin oleh Roh “, dimana seluruh keberadaan orang percaya adalah dalam kendali, kontrol Roh Kudus.

 II.NATUR DAN TUJUAN KEPENUHAN ROH KUDUS

 A. Natur Kepenuhan Roh Kudus

 Efesus 5 : 18 : “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur …., tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”. Dari teks ini digali dan ditemukan sifat-sifat dasar kepenuhan Roh Kudus itu, bahwa kepenuhan Roh Kudus itu bersifat :
 1. Imperatif.  Ini adalah mandat, sehingga kepenuhan Roh Kudus adalah mutlak bagi setiap orang percaya.
 2. Kontras.  Ef 5 : 18 diawali dengan kata ‘alla’ yang berarti “tetapi”, mengemukakan 2 hal yang sangat bertolak belakang.
 3. Terus menerus  kata “plerousthe” dalam bentuk present tense menunjuk kepada tindakan yang berlangsung terus menerus (continues action).
 4. Tidak terbatas.  Kepenuhan Roh Kudus tidak dialamatkan kepada pribadi atau kelompok tertentu, melainkan kepada semua orang percaya.
 5. Karunia.  Itu bukan hasil jasa orang percaya tersebut, tetapi karya Roh Kudus yang bekerja pada orang percaya tersebut.
 6. Bersifat obyektif – pasif  orang percaya berada di bawah pengaruh dominasi atau kontrol Roh Kudus. Bandingannya seperti seseorang mabuk dibawah kontrol alkohol dan mabuk.

 B. Tujuan kepenuhan Roh Kudus

 Kepenuhan Roh Kudus memiliki 2 tujuan, yaitu tujuan obektif dan tujuan subyektif. Kedua tujuan ini tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.
 1.Tujuan Obyektif
 Berdasarkan Efesus 5 : 19-21, tujuan obyektif dari kepenuhan Roh Kudus, yaitu memuliakan Allah. Inilah tujuan tertinggi. Keluar dari garis tujuan ini, maka yang ada hanyalah kepalsuan, sekalipun mengklaim diri dipenuhi oleh Roh Kudus.
 2.Tujuan Subyektif
 Bertujuan untuk mengefektifkan mutu dan pertumbuhan rohani orang percaya. Sehingga dominasi dan kontrol Roh Kudus atas orang percaya bermaksud untuk pengudusan hidup, dimana Roh Kudus menguasai dan mengubah sifat-sifat atau karakter orang percaya tersebut menjadi seperti karakter Allah (Ef. 5 : 1,2 ; Gal. 5 : 22-23 dan band. Kol 3 :10)

 III.AKIBAT KEPENUHAN ROH KUDUS

 Akibat dari kepenuhan Roh Kudus adalah dimanifestasikan dalam seluruh aspek kehidupan dan pengalaman orang percaya. Paling sedikit ada 7 akibat dari kepenuhan Roh Kudus :
 1.Pengudusan yang progresif
 Yaitu manusia yang telah dilahirbarukan (dibaptis) oleh Roh Kudus memiliki natur baru sebagai manusia baru yang dipenuhi atau dikuasai (dikontrol) oleh Roh Kudus dalam rangka menyebabkan, mengubah, mengendalikan manusia baru sehingga dapat memanifestasikan suatu perubahan karakter yang mendasar secara terus menerus melalui operasi firman Tuhan.
 2.Ibadah
 Berdasarkan Efesus 5 : 18, bahwa setelah perintah untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, langsung menyebutkan tentang pujian dan pengucapan syukur yang adalah buah dari persekutuan yang hidup dengan Allah, dan pada saat yang sama, itu merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang yang penuh sukacita, damai dan kepastian. Pujian kepada Allah sekalipun dalam penderitaan (Kisah 7 : 55).
 3.Pengajaran
 Roh Kudus berperan mengajarkan kebenaran (Yoh.16 : 12). Setelah Pentakosta, para Rasul dipenuhi oleh Roh Kudus untuk mengajar kebenaran Allah. Orang Kristen akan mengetahui kebenaran melalui pembacaan Alkitab dalam terang Roh Kudus yang adalah guru terbaik. Roh Kudus juga akan menyatakan kebenaran rohani yang lebih dalam (1 Kor 2 : 9 - 3 : 2). Kepenuhan Roh Kudus akan memungkinkan orang mengerti walaupun tanpa guru atau pembimbing (manusia).
 4.Bimbingan
 Bimbingan sangat dekat relasinya dengan pengajaran. Pengajaran Roh Kudus masa kini, yaitu membuat jelas firman Allah dan aplikasinya lebih mengarah kepada bimbingan. Satu aspek yang penting berkaitan dengan hal ini ialah orang percaya selalu berjalan dalam kehendak Allah. Hanya orang yang dipenuhi oleh Roh Kuduslah yang dapat dibimbing dengan efektif untuk mengenal kehendak Allah dan berjalan dalam kehendak Allah. Dan hanya orang yang dipenuhi / dikuasai oleh Roh Kudus dapat menaklukkan diri (taat) kepada firman Allah.
 5.Kepastian/jaminan
 Kepastian keselamatan adalah hanya bergantung pada pemahaman akan penyataan dan kesaksian Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8 : 16 ; Gal 4 : 6 ; 1 Yoh 3 : 24 ; 4 : 13).Roh Kudus menjamin atau memastikan hubungan kekal anak-anak Allah dengan Bapa dalam keselamatan melalui Tuhan Yesus, dan Roh Kudus adalah meterai (Efesus 1 : 13-14).
 6.Doa
 Kehidupan doa orang percaya tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan rohaninya. Roma 8 : 26 menjelaskan peranan Roh Kudus dalam doa orang percaya. Konteks bagian ini menerangkan ketidakmampuan orang berdoa sebagaimana seharusnya berdoa dan Roh Kudus yang turut campur tangan, yaitu Roh Kudus memenuhi/menguasai kita dengan hikmat dan kemampuanNya yang melampaui hikmat dan kemampuan manusia, membimbing kita berdoa, serta Dia sendiri mendoakan kita kepada Allah. Roh Kudus dalam segala aspek tidak dapat dipisahkan dari kehidupan doa apapun yang vital.
 7.Pelayanan
 Pada hakekatnya manusia tidak dapat melayani Allah. Bahkan orang percaya yang memiliki karunia-karunia Roh Kudus tidak dapat menjalankannya secara penuh tanpa Roh Kudus sendiri yang memakai dan melengkapi orang percaya tersebut. Karena itu, kepenuhan Roh Kudus merupakan salah satu kualifikasi bagi para pelayan Tuhan (Kisah 6 : 3-5) Kepenuhan Roh Kudus mengakibatkan keberanian dan hikmat dalam pelayanan pemberitaan Firman Tuhan (Kisah 4 : 13, 31 band. Kisah 1 : 8). Para Rasul tidak memiliki wewenang untuk menentukan pelayanan mereka, melainkan mereka bergantung pada pimpinan Roh Kudus. Paulus sendiri mengakui dirinya sebagai tawanan Roh. Kepatuhan Paulus sebagai tawanan Roh mengungkapkan bahwa Paulus dipenuhi/dikuasai oleh Roh Kudus.

 IV.KESIMPULAN

 1.Relasi antara baptisan Roh Kudus dengan kepenuhan Roh Kudus, yaitu Baptisan Roh Kudus mendahului kepenuhan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus dialami saat dia dilahirbarukan dan percaya kepada Tuhan Yesus dan diselamatkan sekali untuk selamanya, sedangkan kepenuhan Roh Kudus dialami sejak ia dibaptis oleh Roh Kudus dan terus menerus dialami sepanjang hidupnya  berkaitan dengan pengalaman, pengudusan yang progresif dan peningkatan kualitas rohani.
 2.Alkitab memerintahkan kepada setiap orang percaya untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Ini adalah perintah mutlak. Orang percaya hanya diminta kesediaan dan penyerahan secara total. Ini tidak bisa diusahakan, selain Roh Kudus sendiri yang akan menaklukkan hati sehingga bersedia dan menyerah.
 3.Tujuan seseorang kepenuhan Roh Kudus adalah untuk memuliakan Allah dan pengudusan hidup.
 4.Baptisan Roh Kudus adalah aspek posisi, yaitu menjadikan kita anak-anak Allah. Sedangkan kepenuhan Roh Kudus adalah aspek pengalaman, yaitu pengalaman yang harus dilakukan dengan kemampuan ilahi. Karena itu baptisan Roh Kudus tidak dapat dibatalkan atau tidak dapat hilang, sedangkan kepenuhan Roh Kudus dapat berobah karena progresif sifatnya.