Rabu, 05 Desember 2012

KHOTBAH DI BUKIT


KHOTBAH DI BUKIT ( 1 )
 ( MATIUS 4 : 23-25 ; MATIUS 5 : 1-12 )


 PENDAHULUAN
 Khotbah di Bukit merupakan bagian Alkitab yang terkenal di dunia. Ajaran Yesus yang tercantum di dalamnya sangat menantang para pembacanya sepanjang sejarah kekristenan. Khotbah di bukit sering disebut manifesto kekristenan atau intisari ajaran Yesus. Maka tidak bisa disangkal bahwa kotbah ini memang berperan dan berdampak luas, baik dalam kesalehan kristiani maupun dalam ilmu teologia.
 Penstrukturan bagian ini menurut J. Stott (“Kotbah di Bukit”, Jakarta 1988 Jilid I dan II) adalah sebagai berikut :


 MATIUS

 LUKAS

 Pembukaan
 1. Kebahagiaan Kristiani
 2. Kesaksian Kristiani
 3. Kebenaran Kristiani
 4. Kesalehan Kristiani
 5. Ambisi Kristiani
 6. Pergaulan Kristiani
 7. Penyerahan Kristiani
 Penutupan (reaksi para pendengar)
 4 : 23 – 5 : 1
 5 : 2-12
 5 : 13-16
 5 : 17-48
 6 : 1-18
 6 : 19-34
 7 : 1-20
 7 : 21-27
 7 : 28-29
 6 : 17-19
 6 : 20-26

 6 : 27-36
 (11 : 2-4)
 (12 : 22-31)
 6 : 37-42)
 6 : 47-49

 Pembahasan kita kali ini pada bagian Pembukaan dan Kebahagiaan Kristiani.


 EKSPOSISI
 A. PEMBUKAAN

 1. Betapa rajinnya Kristus sebagai pengkhotbah. Ia berkeliling di seluruh Galilea, Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah (23a). :

 a. berkeliling di seluruh Galilea, mengajar. Sebenarnya Ia bisa saja menyebarkan pemberitahuan agar semua orang datang kepadaNya. Namun untuk menunjukkan kerendahan hati dan anugerahNya, Dia sendirilah yang mendatangi mereka. Menurut Yosephus, ada lebih dari 200 kota di Galilea; dan Kristus telah mengunjungi semua atau sebagian besar kota-kota itu. Ia pergi dari kota ke kota mengajak orang berdosa untuk diperdamaikan dengan Allah.

 b. Yang diajarkan adalah Injil Kerajaan Allah. Kerajaan Sorga yang penuh anugerah dan kemuliaan. Kerajaan yang akan bertahan, yang mengatasi semua kerajaan di dunia. Injil merupakan UUD dari Kerajaan itu, yang mengandung sumpah pengangkatan Sang Raja bahwa Ia telah menyediakan diri untuk mengampuni, melindungi, dan menyelamatkan warga kerajaan itu. Injil juga mengandung sumpah warga untuk setia, bahwa mereka menyediakan diri untuk mematuhi titah-titahNya dan hidup bagi kehormatanNya.

 c. Dimana Ia berkotbah – dalam rumah-rumah ibadat. Bukan hanya di sana, tetapi terutama di sana. Ia berkotbah, sebab disitulah tempat yang amat ramai untuk beribadah, darimana Hikmat diserukan (Amsal 1 : 21. TL) dan diharapkan bahwa disitulah pikiran orang akan dipersiapkan untuk menerima Injil. Di tempat itulah Kitab Suci Perjanjian Lama dibacakan dan penjelasannya bisa menjadi alat yang mudah untuk memperkenalkan Injil Kerajaan Allah.

 2. Betapa besar kuasa Kristus untuk menyembuhkan. Ia berkeliling bukan saja untuk mengajar, tetapi juga untuk menyembuhkan (23b-25). Keduanya dilakukanNya dengan perkataanNya, agar Ia dapat meninggikan namaNya. DisampaikanNya firmanNya dan disembuhkanNya mereka (Mazmur 107 : 20 ). :

 a. Penyakit apa yang disembuhkanNya – semuanya tanpa kecuali. Dia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Ada tiga kata untuk mengisyaratkan hal ini. noson, seperti kebutaan, kelumpuhan, demam tinggi, dan sakit busung air. Setiap penyakit atau kelemahan, malakian, seperti misalnya disentri dan batuk kering. Segala macam sengsara, basanous, seperti misalnya encok, batu ginjal, kejang-kejang, dan penyakit-penyakit menyiksaa lainnya.

 b. Disini disebutkan tiga jenis penyakit secara khusus, yaitu penyakit lumpuh, yang merupakan kelemahan tubuh yang paling hebat,; sakit ayan, atau penyakit otak yang paling parah, dan kerasukan setan, yang merupakan kesengsaraan dan malapetaka terparah dibanding kedua penyakit tadi.

 c. Seorang tabib yang begitu mudah ditemui, yang pasti berhasil, yang menyembuhkan dengan segera, tanpa menimbulkan keraguan atau penantian yang menyakitkan, dan yang menyembuhkan tanpa memungut bayaran, tidak bisa tidak pasti mendapatkan pasien yang berlimpah. Lihatlah disini bagaimana orang datang berbondong-bondong dari mana-mana. Berita tentang Dia tersiar di seluruh Siria¸ bukan hanya diantara kaum Yahudi, namun sampai ke bangsa-bangsa tetangga, yang hanya melalui kabar ini bisa dipersiapkan untuk menerima InjilNya yang sebenarnya baru dikemudian hari akan dibawa kepada mereka.


 B. KEBAHAGIAAN KRISTIANI

 1. (5 : 1-2) merupakan pendahuluan dari khotbah Yesus di Bukit. Dalam ayat-ayat ini kita melihat gambaran umum tentang kotbah ini :

 a. Pengkotbahnya adalah Tuhan Yesus.
 b. Tempatnya di atas sebuah bukit di Galilea.
 c. Para pendengarnya adalah murid-muridNya yang datang kepadaNya, orang banyak itupun turut mendengarnya.
 d. Khotbah ini sangat khidmat, hal ini tampak dalam kata-kata setelah Ia duduk.

 2. Ucapan bahagia (5 : 3-12). Setiap berkat yang diucapkan Kristus di sini mempunyai tujuan ganda :

 a. Untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya benar-benar dapat disebut berbahagia dan seperti apa watak mereka.
 b. Apa saja yang terkandung dalam kebahagiaan yang sejati, yakni dalam janji-janji yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki watak-watak tertentu yang membuat mereka berbahagia itu.

 3. Siapakah sebenarnya yang disebut berbahagia ? :

 Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang berbahagia (3). Ada kemiskinan rohani yang begitu menghalangi orang menerima berkat atau kebahagiaan, sehingga merupakan dosa dan jerat, seperti kekecutan hati dan ketakutan mendasar, serta kesediaan untuk menyerah pada hawa nafsu. Namun kemiskinan jiwa yang disebut disini adalah suatu keadaan yang mulia, dimana kita dikosongkan agar dapat diisi oleh Yesus Kristus. Menjadi miskin dihadapan Allah berarti :
 Merasa puas di tengah kemiskinan, bersedia dikosongkan dari kekayaan duniawi jika hal itu menjadi kehendak Allah bagi kita, dan menilik keadaan kita saat kita sedang dalam kondisi yang kurang. Di dunia ini banyak orang yang miskin tetapi penuh keangkuhan, miskin dan sombong, menggerutu dan mengeluh, serta mempersalahkan nasib mereka. Namun kita harus meneysuaikan diri dengan kemiskinan kita, kita harus tahu apa itu kekurangan (Fil. 4 : 12). Ini berarti merasa tidak trerikat pada semua kekayaan duniawi, tidak mencondongkan hati kita kepadanya. Jika kita kaya di dunia, kita harus miskin dihadapan Allah. Artinya, kita harus bersikap rtendah hati terhadap orang miskin dan ikut merasakan perasaan mereka. Ayub seorang yang miskin di hadapan Allah, ketika ia memuji Allah karena mengambil maupun memberi.
 Berpikir sederhana mengenai diri sendiri, siapa kita, apa yang kita mil;iki dan apa lakukan. Dalam PL orang miskin sering kali menjadi gambaran orang rendah hati dan menyangkal diri, kebaikan dari orang-orang yang hidup nyaman dan sombong. Miskin dihadapan Allah berarti kita melihat diri sendiri seperti kanak-kanak, lemah, bodoh dan tidak berarti (18:4 ; 19:14). Jemaat Laodikia miskin dalam hal-hal rohani, melarat dan malang, namun mereka kaya dalam batin mereka, begitu berlimpah dalam harta sehingga mereka tidak kekurangan apa-apa (Wahyu 3 : 17). Miskin dihadapan Allah berarti memandang hina diri sendiri dengan cara yang kudus, menghargaio orang lain, dan menganggap diri tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Ini berarti mengakui bahwa Allah besar dan kita kecil, bahwa Dia kudus dan kita berdosa.
 Menanggalkan seluruh rasa keyakinan diri terhadap kebenaran dan kekuatan kita sendiri, supaya dengan demikian kita dapat mengandalkan kebaikan Kristus saja untuk membenarkan kita dan mengandalkan Roh serta anugerahNya untuk pengudusan kita. Hati pemungut cukai yang patah dan remuk, penyesalan saat memohon belas kasihan karena merasa diri sebagai orang berdosa, itulah yang disebut miskin dihadapan Allah.

 Kemiskinan dihadapan Allah ini ditempatkan pada urutan pertama diantara semua kebaikan Kristen. Para filsuf tidak memperhitungkan kerendahan hati sebagai salah satu kebajikan moral mereka, tetapi Kristus menempatkannya di urutan pertama. Penyangkalan diri adalah pelajaran pertama yang harus dipelajari di sekolahNya, dan miskin di hadapan Allah dijadikan ucapan berbahagia pertama dalam khotbahNya.

 Mereka berbahagia atau diberkati. Di dunia ini mereka mengalami hal tersebut, Allah memandang mereka dengan penuh belas kasihan. Merekalah yang empunya KerajaanSorga. Kerajaan anugerah terdiri dari orang-orang yang demikian. Orang-orang yang seperti ini , yang mematuhi Allah saat Ia merendahkan diri seperti ini, yang memetuhi Allah saat Ia merendahkan mereka, akan ditinggikan. Jiwa congkak dan sombong akan musnah bersama kemuliaan segala kerajaan di bumi. Namun, jiwa yang rendah hati, leb\mah lembut, dan patuh akan memperoleh kemuliaan Kerajaan Sorga.

 AYAT HAFALAN
 “ Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
 karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga. “
 (Matius 5 : 3)

 KESIMPULAN
 1.Kristus di dalam mewartakan Injil Kerajaan Sorga tidak berdiam diri tunggu bola, tetapi aktif jalan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia merindukan banyak jiwa yang dapat diperdamaikan dengan Allah. Bagaimanakah dengan kita dalam l\melanjutkan misiNya di dunia ini ?
 2.Dalam pelayananNya Yesus Kristus juga melakukan pelayanan kesembuhan. Melalui pelayanan ini orang lebih mudah datang kepada Tuhan dan dilayani. Sekalipun pelayanan kesembuhan itu dilakukanNya, tetapi misi utamaNya mengabarkan Injil tidak dilupakanNya. PelayananNya seiring dengan tindakanNya.
 3.Ucapan-ucapan bahagia yang mengawali khotbah di bukit ini memaparkan watak atau ciri khas Kristiani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar